Latar Belakang
Jakarta sebagai Ibukota Negara sekaligus pusat perekonomian dengan jumah penduduk 8.792.00 jiwa kian lama kian tidak nyaman untuk dihuni. Problem utama jakarta adalah kemacetan lalu lintas yang telah menjadi keseharian warganya dan bencana banjir yang menjadi ciri khas ibu kota Indonesia.
Kemacetan disebabkan diantaranya oleh ketimpangan di sektor transportasi kota berupa pertumbuhan jalan yang tidak seimbang dengan pertumbuhan kendaraan bermotor. Tingginya penggunaan kendaraan bermotor menjadi pemicu utama problem kemacetan di Jakarta. Bahkan, hingga saat ini tercatat jumlah kendaraan bermotor sudah mencapai 8,5 juta unit, di mana 8,38 juta unit atau 98,6 persen merupakan kendaraan pribadi dan 121.477 unit atau sekitar 1,4 persen adalah angkutan umum, dengan pertumbuhan kendaraan mencapai 11% setiap tahunnya. Sedangkan panjang jalan yang ada 7.650 Km dengan luas 40,1 km2 atau 6,2% dari luas wilayah DKI, dengan pertumbuhan jalan hanya sekitar 0.01 % per tahun. Perbandingan dengan pertumbuhan kendaraan jalan dari angka tersebut jelas membuktukan bahwa pertumbuhan jalan tidak mampu mengejar pertumbuhan kendaraan, sehingga wajar ketika terjadi kemacetan hampir di setiap ruas jalan. Hasil Study on Integrated Transportation Master Plan (SITRAMP) oleh JICA/Bappenas menunjukkan bahwa apabila sampai tahun 2020 tidak ada perbaikan yang dilakukan pada sistem transportasi Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok Tangerang dan Bekasi), maka estimasi kerugian ekonomi yang terjadi sebesar Rp. 28,1 Triliun dan kerugian nilai waktu perjalanan yang mencapai 36,9 Triliun. Dengan kata lain kemacetan dapat mempengaruhi ekonomi Jakarta.
Masalah yang lain adalah bencana banjir. Banjir menjadi trend mark bagi provinsi Jakarta. Banyak kerugian akibat bencana banjir. Salah satu contohnya adalah banjir yang pada bulan Februari 2007 sebesar Rp4,125 triliun yang dilaporkan oleh H. Paskah Suzetta, Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas. Bencana ini seperti menjadi langganan bagi Ibu kota Indonesia, salah satu contohnya yang baru terjadi pada bulan November 2011 di Cipinang.
Salah satu pencegahan masalah Jakarta adalah pembangunan Banjir Kanal. Banjir Kanal adalah saluran air yang didesain agar air, dalam hal ini dari sungai Ciliwung, tidak melewati tengah kota, tapi pingggiran kota. Banjir kanal merupakan gagasan Prof H van Breen dari Burgelijke Openbare Werken atau disingkat BOW, cikal bakal Departemen PU, yang dirilis tahun 1920. Studi ini dilakukan setelah banjir besar melanda Jakarta dua tahun sebelumnya. Macam-macam cara ditempuh pemerintah untuk menanggulangi Jakarta dari banjir, salah satunya adalah pembangunan kanal banjir. Ada dua, umum disebut dengan nama: Banir Kanal Barat (BKB) dan Banjir Kanal Timur (BKT). Inti konsep ini adalah pengendalian aliran air dari hulu sungai dan mengatur volume air yang masuk ke kota Jakarta. Termasuk juga disarankan adalah penimbunan daerah-daerah rendah.
Selain berfungsi mengurangi ancaman banjir di 13 kawasan, melindungi permukiman, kawasan industri, dan pergudangan di Jakarta bagian timur, Banjir kanal juga dimaksudkan sebagai prasarana konservasi air untuk pengisian kembali air tanah dan sumber air baku serta prasarana transportasi air. Banjir Kanal direncanakan untuk menampung aliran Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung. Daerah tangkapan air (catchment area) mencakup luas lebih kurang 207 kilometer persegi atau sekitar 20.700 hektar. Rencana pembangunan BKT tercantum dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2010 Provinsi DKI Jakarta. Fungsi tambahan adalah sebagai motor pertumbuhan khususnya wilayah sekitar banjir kanal dengan Konsep Water Front City. Berdasarkan fakta didapat bahwa daerah kumuh yang identik dengan pendapatan rendah berada di sekitar sungai. Berikut adalah data keadaan perekonomian Jakarta berdasarkan penghasilanya.
Untuk itu perlu dilakukan optimasi pembangunan banjir kanal sebagai sistem pencegah banjir dan alat transportasi masyarakat. Hal ini yang melatarbelakangi pengakatan tema dengan menganalisis alat transportasi sebagai bus air di banjir kanal, rute perjalanan, jadwal, jumlah alat transportasi, perhitungan efisiensi, penghematan masyarakat ketika menggunakan alat transportasi bus air.
Manfaat
Manfaat proposal ini adalah dapat menciptakan pilihan lain untuk transportasi masyarakat sehingga mengurangi kemaceta, memberikan keefektifan transportasi dari segi biaya dan waktu, dan penghematan pengeluaran dari segi transportasi, selain berfungsi sebagai pencegah banjir di Jakarta.
