Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2012

Today i want share my experience about follow international conference. I followed conference in 2012 in Bintan Island (near Singapore).  The name of that conference is The 5th International Meeting on Advance of Thermo-fluid Conference. I presented once paper about ice slurry, that domain researched my bachelor final assignment. Actually i submit two paper with my friend, Mach Novviali. and alhamdulillah i got free payment from transport, hotel, and conference fee. thanks for Allah SWT given great experience and thanks for Dr Agus S. Pamitran M.Eng, he mentored very kindly me  until now as my supervisor.  My paper was “Characteristics of Sea-water Ice Slurry for Cooling of Fish” and my friend paper was “Review Paper: Sea-water Ice Slurry Generator and Its Application on Indonesian Traditional Fishing”. Ice slurry group consist A.S. Pamitran, H.D. Ardiansyah, M. Novviali and Yongga, Lufti.

I stayed on beautiful resort in Tanjung Pinang, i think the spot very popular and common for foreign tourist compare with original tourist. I can make simple conversation on conference with new friend form Nigeria, Malaysia, Singapore, Pakistan and so on. I remembered with Prof Eng form NUS with their great group research. He conduct research on sea water filter, regenerator, and so on. Prof Normah from UTM with her topic on thermoacoustic and so on. and many Researcher from other university even form Kawasaki Industry. This conference lead University of Indonesia, University Technology Malaysia, and National University of Singapore.

IMG00565-20121112-0857

 

Prof Bambang Sugiarto opened the 5th IMAT (Assoc Prof Dr. Idrus Alhamid, Prof Eng, Prof Azhar)

 

IMG00567-20121112-1055

The 5th IMAT Situation on presentation

Read Full Post »

Ideal of refrigeration system is closed system, that mean system don’t receive and discard mass that is called refrigerant such as R-22 and R-134 on environment. But usually in system have higher pressure than environment, so pressure form system castaway through environment. As soon as possible we refill refrigerant with schedule before lost refrigerant on system. If we are late to refill refrigerant, system will be reduced their life time. Actually when refill refrigerant, something or even every act we us  service of refrigerant ace.
There some matters must be cared by us as costumer when us their service.

  • Be sure system will be vacuumed with vacuum pump. vacuum pressure not only help refrigerant enter on system, but also avoid other gas contain on system beside refrigerant gas. Therefore, vacuum pump must act at least 30 minute on small system (maybe ac split). When system contain other gas, system will not optimal on heat transfer an low pressure.

IMG00113-20120522-1149

  • You must understand about characteristic of your refrigerant system, usually hang on beside your condenser. there are cooling capacity ( heat can absorb), refrigerant (refrigerant recommended from manufacture to get cooling capacity optimum), design pressure (working pressure at low and high pressure), weight (total weight on condenser, compressor, evaporator), and electrical power (volt and current). Serviceman can use 3 method to refill refrigerant
  1. The first from working pressure, but this method needs pressure on section and discard compressor. Actual system without connected on system, If serviceman use this method, he must make penetration to connect pressure gauge. Limit on pressure on catalog system (Bellow picture)
  2. The second use weight refrigerant with weight scale. refrigerant storage has high pressure and system has vacuum pressure, so refrigerant flow automatic through system.
  3. The third use electric parameter, service man needs voltage meter. He refill refrigerant until limit volt on compressor. Contain refrigerant on system along with voltage compressor to compress refrigerant gases, because compressor need higher torsion than less refrigerant.

IMG07268-20120517-1643

  • Be sure exactly refrigerant agree with catalog from manufacture. For example system on above picture recommend use R-22. If wrong, that can impact on cooling capacity from the system even with same weight

IMG00275-20120726-1017

Read Full Post »

Salinitas adalah kadar garam terlarut dalam air. Satuan salinitas adalah per mil (‰), yaitu jumlah berat total (gr) material padat seperti NaCl yang terkandung dalam 1000 gram air laut (Wibisono, 2004). Salinitas merupakan bagian dari sifat fisikkimia suatu perairan, selain suhu, pH, substrat dan lain-lain. Salinitas dipengaruhi oleh pasang surut, curah hujan, penguapan, presipitasi dan topografi suatu perairan. Akibatnya, salinitas suatu perairan dapat sama atau berbeda dengan perairan lainnya, misalnya perairan darat, laut dan payau. Satuan yang ditunjukkan dalam menghitung salinitas adalah part per thousand (ppt)atau dengan practical salinity unit (psu). Kisaran salinitas air laut adalah 30-35‰, estuari 5-35‰ dan air tawar 0,5-5‰ (Nybakken,1992).

 1

Peta Kadar Salinitas (Calor M Lalli,.2006)

             Dalam percobaan, penggunaan air laut untuk pembuatan es biasa diwakilkan dengan larutan NaCl. Hal ini karena komposisi NaCl lebih besar dibanding komposisi ion yang lain. Pada tabel 2.6 yang menunjukkan komposisi ion air laut pada salinitas 35 ppt menunjukkan bahwa NaCl mempunyai 85.65 % dari berat garam air laut. Sehingga tidak heran jika untuk membuat es digunakan larutan NaCl yang lebih mudah didapatkan saat jauh dari garis pantai.

Propertis Air Laut pada Salinitas 35 ppt2

K. S. Hilderbrand (1999) menunjukkan grafik hubungan persentase NaCl dalam larutan terhadap salometer (oSAL) dan freezing temperatur. SAL adalah parameter pengukuran dari suatu sensor pembaca salinitas dimana dihitung dengan persen (%) serta nilai maksimal dari 100% berdasarkan batas campuran sampai menjadi larutan eutetic

3 Hubungan Larutan NaCl dan Salinitas terhadap Freezing Point (K. S. Hilderbrand,.1998)

Perubahan fase dari air laut yang menunjukkan timbulnya es untuk ice slurry. Apabila dilihat di diagram perubahan fase suatu liquid, perubahan fase yang ditunjukkan pada gambar diatas berada disamping kanan kubah saturasi diagram T-s. Pada ice slurry perubahan fase dikembangkan dari liquid menjadi es dan liquid, serta dijaga sebelum menjadi solid salt dan es. Penjagaan ini dengan mengatur temperatur titik beku larutan yang dipengaruhi konsentrasi dari larutan tersebut.

4

Diagram Solid-Liquid Larutan NaCl (http://www.chemguide.co.uk/physical/phaseeqia/saltsoln.html)

 Pada grafik NaCl diatas, temperatur eutectic terjadi pada temperatur -21.1 oC. temperatur eutectic adalah temperatur batas dari larutan NaCl yang langsung berubah dari salt solution menjadi solid salt dan es tanpa dimulai ice dan salt solution. Persentase campuratan pada keadaan tersebut disebut mixture eutectic.

Sesuai dengan hukum Racult, apabila suatu liquid diberi larutan maka akan timbul kesetimbangan tekanan karena perbedaan tekanan parsialnya. Begitu juga Air laut yang merupakan campuran antara air dan larutan. Feistel et al (2008) telah meneliti antara hungungan  salinitas terhadap titik beku dari air laut.

Hubungan freezing temperatur dengan salinitas air laut (Feistel et al,.2008)

5

Sedangkan menurut data The Practical Salinity Scale 1978 and the International Equation of State of Seawater 1980, Unesco Technical Papers in Marine Science No.36 menunjukkan tabel hubungan freezing temperatur dengan salinitas air laut pada tabel 2.6

Hubungan freezing temperatur dengan salinitas air laut

6

Read Full Post »

Terdapat dua aspek lain yang mempengaruhi kwalitas ikan selain pendinginan, yaitu pengerjaan dan kebersiahan. Pengerjaan yaitu memotong bagian yang terluka untuk mencegah efek bakteri, sedangkan kebersihan dapat dilakukan dengan menghilangkan sumber bakteri dengan langsung membersihkan ikan setelah ditangkap dan menggunakan peralatan yang higienis. Namun dari ketiga efek diatas, efek pendinginan sangat dominan dalam menjaga kwalitas ikan.

Pendinginan ikan pada kapal ikan tradisional biasanya menggunakan es batu dan es flake. Dewasa ini, ice slurry menjadi pilihan populer terbaik karena performa ice slurry lebih baik dibanding es flake untuk menjaga kualitas ikan. Ice slurry sebagai pendinginan ikan dapat menjaga agar tidak ada udara antara ikan dan es, sehingga pendinginan ikan menjadi cepat karena luas permukaan bidang kontak lebih besar dan pertumbuhan bakteri menjadi lebih lambat yang membuat memperpanjang daya hidup ikan. (Wang et al,.1999). Selain itu, karena pembuatan ice slurry dengan pemberian konsentrasi larutan, maka titik beku dari larutan yang lebih rendah membuat secara biologi mengaktifkan fungsi protein dan material probiotik dijaga  dari bahaya panas (T.Vajda,.1999).

Fungsi lain dari ice slurry terhadap pendinginan ikan adalah waktu pendinginan ikan tiga kali lebih cepat dibanding es flake untuk menurunkan sampai temperatur 2oC (J Paul,.2002).

1

Skema Instalasi Ice slurry Sistem Untuk Kapal Ikan (Wang et al,.1999)

Es Generator berfungsi sebagai alat penukar kalor dari air laut ke refrigeran sampai temperatur 8oC, kemudian air laut dengan temperatur rendah tersebut mengalir dengan bantuan pompa ke tangki lebih besar untuk menurunkan temperatur. Pada tanki tersebut biasa disebut tangki harvest (pemanen), karena pada tangki ini sistem pembuat ice slurry berada, misalnya scraper dan auger shaft yang membantu mengambil ice slurry yang timbul di dinding tangki. Tangki harvest biasanya dilengkapi oleh injeksi air laut untuk mendorong fraksi es yang berada diatas liquid karena masa jenisnya yang lebih rendah menuju tangki ketiga. Kemudian fraksi es pada tangki ketiga tersebut dicampur dengan air laut dan diaduk agar temperatur tetap terjaga, penambahan air laut ke tangki ketiga yang penuh dengan fraksi es karena faktor teknis dan produk yang didinginkan.

Batas Tidak Layak Makan Terhadap Temperatur Penyimpanan Ikan (Masyamsir, 2001)

2

Pemasangan alat pembuat ice slurry di kapal ikan biasanya untuk kapal nelayan berukuran besar (nelayan bulanan). Namun untuk di Indonesia pemanfaatan ice slurry dapat diaplikasikan pada kapal motor (inboard motor). Tidak semua ukuran kapal dapat memanfaatkan alat pembuat ice slurry karena beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, antara lain :

  • Tingkat kestabilan kapal.
  • Penambahan draft/kedalaman.
  • Jumlah hasil tangkapan ikan rata-rata.
  • Lama dan jangkauan mencari ikan.
  • Luas ruangan yang tertutup dan terbuka.
  • Tingkat ekonomi.
  • Kearifan lokal pengguna alat.

Ukuran kapal ikan diatas 20 GT di Indonesia berdasarkan data Kementrian Kelautan dan Perikanan (2010) berjumlah sekitar 155.922 unit atau 26 % dari total kapal ikan di Indonesia. Sistem nelayan di Indonesia dapat disebut gotong royong yang digambarkan dengan pemilik kapal mengajak saudara-saudara dan tetangga yang tidak mempunyai penghasilan untuk ikut berlayar. Dengan kata lain selain, faktor diatas juga harus dipertimbangkan tentang sifat masyarakat Indonesia. Harapanya adalah pendapatan nelayan dapat naik dengan penambahan teknologi namun tidak menghilangkan nilai gotong royong pada nelayan. Karena dengan teknologi baru bisa dimungkinkan pengurangan anggota nelayan pada kapal tersebut.

1

Kapal Ikan berukuran sekitar 20 GT di Muara Angke (Data Pribadi)

 

Read Full Post »

Dasar ice slurry adalah pemberian larutan pada air, sehingga larutan mempunyai titik beku rendah untuk membuat perbedaan potensial kimia. Penentuan larutan sangat mempengaruhi nilai dari tingkat keefektifan dari pembentukan ice slurry. Sehingga dalam penentuan larutan beberapa aspek harus diperhatikan yaitu volume kapasitas panas dan viskositas dari larutan, selain itu juga tingkat keracunan, korosi dan biaya untuk penambahan larutan ( Guilpart et al,.2006).

Dibawah ini ditunjukkan kapasitas maksimum dan minimum dari berbagai pelarut yang telah diaplikasikan dalam industri dan masuk dalam jangkauan perhitungan yang biasa digunakan. Dimana x adalah konsentrasi dari pelarut dimana minimum di 0 dan T adalah temperatur dimana maksimal kerja sampai 20o C.

Daftar Komposisi Larutan Yang Telah Dikalkulasi (Guilpart et al,. 2006)

1

Setiap larutan mempunyai efek masing-masing baik dari segi keracunan, mudah terbakar dan lain-lain. Dengan kata lain sebelum memilih larutan sebagai media ice slurry, perlu dipertimbangkan efek-efeknya. Berikut adalah efek-efek dari pemakaian beberapa larutan.

2

Beberapa kesimpulan dari tabel diatas adalah EA mudah terbakar dan memabukkan sehingga biasanya pada aplikasi ditambahkan isopropanol atau n-butanol untuk mencegah pengkonsumsian. NH3 mudah menimbulkan korosi serta berbahaya terhadap lingkungan serta  NaCl menimbulkan iritasi. Berbeda dengan PG yang bersifat kebalikan dari semua larutan diatas.  LD50 oral rat adalah tingkat racun dari tingkat dosis kematian, parameter ini ditunjukkan dalam milligram adiktif per kilogram pada 50% binatang yang terbunuh pada penelitian di labolatorium. Nilai rendah dari  LD50 berarti larutan sangat berbahaya dan mematikan. Dari data diatas yang berbahasa dari segi LD50. Parameter ini hanya ada pada larutan dua jenis fluida. (Melinder, 2008).

Read Full Post »

Secara umum pembentukan ice slurry terdiri dari tiga tahap, yaitu Supersaturation, Nucleation, dan Grow (pertumbuhan). Selain itu terdapat proses attrition, agglomeration dan ripening yang terjadi pada ice slurry generator tertentu   (E Stamatiou et al.,2003).

  •  Supersaturation

Supersaturation hanya terjadi apabila gaya pembawa terpenuhi, oleh karena itu supersaturation  dari ice slurry membutuhkan larutan. Hal ini membuat larutan tidak dalam kestabilan dan terjadi perbedaan potensial kimia (Δμ) antara fase larutan dan kristal padat. Dimana liquid adalah larutan awal antara air dan pelarut, sedangkan solid adalah fraksi es.

Δμ = μ1iquid(T) – μsolid(T)

Pada kasus pembangkitan ice slurry, larutan supersaturated dengan air terjadi. Setelah awal nucleation ice slurry  terbentuk, yang mengurangi supersaturasi pada larutan. Ice crystal dapat terbentuk sampai perbedaan potensial kimia (Δμ) dikurangi pada kondisi saturasi. Perbedaan dalam potensial kimia terjadi karena temperatur atau tekanan pembawa gaya. Supersaturasi dapat  terjadi oleh supercooling dari larutan saat setimbang temperatur atau dengan mendapatkan kesetimbangan temperatur melalui perubahan tekanan. Untuk ice slurry artinya larutan harus membawa ke triple point, dimana air secara parsial membeku untuk membuat perbedaan potensial kimia yang dibutuhkan untuk kristalisasi. Pendinginan dan perubahan tekanan adalah dua metode yang diaplikasikan dalam ice slurry generator. Melewati kurva pembekuan dari larutan, temperatur atau tekanan dapat diubah menjadi perbedaan konsentrasi. Laju dari tahap kristalisasi, nucleation dan growth (pertumbuhan) ditentukan oleh level dari surpersaturasi larutan.

Supercooling adalah suatu efek yang sering digunakan untuk teknik memproduksi ice slurry secara baik. Sesuai dengan Hukum Raoult apabila suatu liquid dicampur dengan larutan misalnya methanol, ethylene glycol, propylene glycol, sodium chloride, magnesium chloride, potassium chloride, dan lain-lain, hal ini menjadi larutan yang mempunyai tekanan campuran akan berada diantara tekanan parsial uap kedua komponan yang terikat antara campuran liquid dan membuat titik pendinginan larutan menjadi ikut turun serta mempercepat nucleation.

  •  Nucleation

Dalam larutan supersaturasi, awal nucleasi dapat terbentuk ketika molekul bersama mendapatkan bentuk  kelompok stabil. Hal ini dapat terjadi salah satu antara   homogeneously atau heterogeneously. Dalam homogeneous nucleation, fase baru terbentuk dari liquid murni yang melewati keadaan fluktuasi dari kelompok molekul, untuk air hanya terjadi pada temperatur rendah biasanya  dibawah -40oC (Stamatiou E et al., 2005). Sedangkan untuk heterogeneous nucleation lebih banyak terjadi pada larutan, selain itu permukaan luar yang memberikan objek lain misalnya kotor, partikel dari diniding dapat membantu terjadinya nuclei. Sehingga nucleation dimulai pada temperatur lebih tinggi dibanting homogeneous nucleation. Setelah awal nucleation terjadi nucleation selanjutnya akan mulai terbentuk, hal yang mirip secara teori terhadap konsep pendidihan.

  •  Growth (Pertumbuhan)

Pada pertumbuhan kristal, nuclei membesar untuk menjadi kristal dengan penambahan molekul dari larutan supersaturasi.  Secara umum terjadi tiga tahap, yaitu perpindahan masa secara molekul difusi melalui curah larutan melewati lapisan batas sekitar nucleus, penggabungan molekul menuju dinding dan perpindahan panas secara simultan dari kristal ke bagian curah larutan, untuk mindahkan  panas meliputi perubahan fase.

Ketiga metode ini terjadi pada tipe scraper ice slurry generator. Pada bagian pertumbuhan dibantu oleh putaran shaft auger yang dapat membantu perpindahan masa dan perpindahan panas. Sebenarnya terdapat beberapa konsep kinerja tentang shafh auger, pertama adalah sebagai pengganggu thermal boundary layer secara simultan untuk mencegah terjadinya ice crystal yang mengendap pada dinding (M J Wang et al,.2001; M j Wang et al,.1996; C W Snoek,.1993 ; S P Gladis et al,.1999), yang kedua menyebutkan bahwa ice crystal dari dinding diedarkan menuju tengah ice slurry generator (A B Russel et al,.1999; H G Schwartzberg et al,.1990; R W Hartel,.1996; A J Armstrong,.1979; D P Patience et al,,2001)

Interaksi antara nukleasi dan pertumbuhan kristal menentukan karakteristik kristal yang terbentuk seperti ukuran, distribusi dan morfologi dari kristal Mullin, J. W. (2001). Ukuran dari kristal sangat dipengaruhi oleh laju kristalisasi, proses pendinginan yang cepat akan menghasilkan ukuran kristal yang kecil dan jumlah yang banyak. Sebaliknya , proses pendinginan yang lambat akan menyebabkan ukuran kristal lebih besar dengan jumlah yang sedikit.

  1

Grafik Hubungan Freezing Point

(Olahan pribadi dari http://2011.igem.org/Team:KULeuven/Thermodynamics)

Sedangkan dibawah adalah grafik tentang hubungan pembentukan fraksi es dengan temperatur terhadap waktu pendinginan. Titik t0 ke t1 adalah supercoling sampai supersaturasi, kemudian t1 ke t2 adalah titik dimana terbentuknya fraksi es yang disebut nukleasi, sedangkan t2 ke tf adalah panas sensibel sampai terbentuk nukleasi sempurna (T.A. Mouneer et al,.2011). Fluida air nukleasi penuh akan terjadi pada temperatur -40oC (Stamatiou E et al., 2005). Tingkat nukleasi akan mempengaruhi kwalitas dari pembentukan ice slurry.

2

Grafik Hubungan Temperatur dengan Fraksi Es dan Temperatur (T.A. Mouneer et al,.2011)

            Berbeda dengan grafik diatas, meskipun dengan sistem pembuatan ice slurry yang sama, bentuk grafik penurunan temperatur berbeda. Grafik dibawah  menunjukan bahwa titik mulai nukleasi dimulai dari kenaikan temperatur. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan tentang pembentukan ice slurry sebelumnya (E. Stamatioua et al,. 2005). Intinya adalah keadaan nukleasi dapat dilihat dari proses kenaikan temperatur setelah titik beku larutan atau ketika proses timbulnya kristal es meskipun tidak terjadi kenaikan temperatur.

1

Grafik Hubungan Waktu dengan Temperatur dan Torsi Scraper (Frank Qin et al,.2006)

Read Full Post »

Difinisi Ice Slurry

Ice slurry terdiri dari larutan air yang mempunyai kristal es (E Stamatiou et al.,2003). Ice slurry juga didefinisakan sebagai Fine-crystalline Ice Slurry adalah ice slurry  dengan partikel es yang memiliki ukuran diameter rata-rata sama dengan atau kurang dari 1 mm (Peter W Egolf et al,.2003).

Secara umum ice slurry mempunyai sifat dan karakteristik fisik sebagai berikut  (Nandy P et al,.2006)

  1. Larutan dan padatan dengan temperatur sampai -15 oC.
  2. Dapat dibuat dari larutan brine yang dipakai di bawah nilai titik bekunya dengan beban pendinginan pada temperatur antara -2 oC sampai dengan -50 oC.
  3. Ice slurry akan menjadi larutan yang mempunyai sifat dan perilaku yang sangat berbeda dengan brine yang melarutkannya.
  4. Merupakan fluida 2 fasa non-Newtonian pada fraksi es yang tinggi.
  5. Memerlukan perhitungan pemipaan, pompa, heat exchanger, dan storage tank yang berbeda.

Read Full Post »

Riset tentang ice slurry banyak ditujukan tentang aliran ice slurry untuk mengetahui karakteristik thermofluida. Contohnya adalah Gupla dan Frazer (1990) yang menjelaskan ice slurry menggunakan 6% ethylene glycol dengan fraksi es pada ice slurry 0%-20% dan debit antara 1,18 m3/hour dan 2,16 m3/hour serta ukuran ice slurry 0,125 mm dan 0,625 mm pada heat exchanger menghasilkan kesimpulan bahwa kenaikan total koefisien perpindahan kalor sebanding dengan debit dan berbanding terbalik dengan kenaikan fraksi es, tekanan jatuh konstan sampai ice fraction 20% dan naik cepat pada kenaikan fraksi es lebih dari 20%. Sedangkan Kauffeld (1999) melakukan riset dengan membandingkan campuran etanol dan campuran potassium carbonate sebagai bahan ice slurry. Untuk larutan etanol menghasilkan partikel es yang kecil mempunyai koefisien perpindahan kalor yang meningkat seiring dengan bertambahnya fraksi es. Sedangkan dengan campuran potassium carbonate menghasilkan partikel es yang besar dan mempunyai koefisien perpindahan kalor yang menurun dengan bertambahnya fraksi es.

Knodel (2000) menyimpulkan bahwa koefisien perpindahan kalor menurun dengan bertambahnya fraksi es, hasil yang serupa dengan penelitian Gupla dan Frazer (1990). Knodel menjelaskan bahwa pengurangan ini terjadi karena perpindahan aliran fluida dari turbulen ke laminar karena faktor fraksi es yang meningkat.  Hasil berbeda dilakukan oleh Bellas J, Chaer dan Tassou S.A (2002) yaitu dengan mengukur ice slurry dari campuran 5% propylene glycol pada plate heat exchanger dengan fraksi es antara 0 sampai 25% dan debit antara 1-3,7 m3/hour. Bellas menyimpulkan bahwa kenaikan fraksi es antara 0-20% membuat tekanan jatuh naik sekitar 15% lebih dari jarak debit. Sedangkan total koefisien perpindahan kalor naik secara signifikan dengan bertambahnya debit. Variasi fraksi es tidak terlalu kelihatan pada hasil koefisien perpindahan kalor.

N. Putra, Imansyah, Noviandra dan R. Adiprana (2004) menggunakan ice breaker untuk menghasilkan ice slurry dan heat exchanger menghasilkan koefisien perpindahan kalor naik ketika debit dan fraksi es naik. koefisien perpindahan kalor dan tekanan jatuh adalah fungsi dari viscositas, reynold number, ukuran ice crystal dan ice fraction.

Stamatiou dan Kawaji (2005) menguji koefisien perpindahan kalor dengan menggunakan vertical rectangular channels yang diberikan heat flux. Hasil dari riset ini adalah terdapat nilai Nuselt Number (Nu) mengalami kenaikan dengan bertambahnya fraksi es dan dinding heat flux. Dengan kata lain peleburan partikel es pada awal pipa karena heat flux sehingga temperatur menjadi relatif rendah, sehingga peranan perpindahan konveksi lebih tinggi dibanding konduksi. Selain itu, kecepatan dipinggir dinding pipa berkuran ketika diberi heat flux, hal ini disebabkan karena tidak terdapatnya ice fraction di pinggir diding panas, sedangkan kecepatan pada fluida murni tidak berpengaruh ketika diberi heat flux.

Lee D.W., Yoon, E.S., Joo, M.C. dan  Sharma, A (2006) melakukan penelitian perpindahan kalor dengan menggunakan 6,5% ethylene glycol pada pipa tembaga diameter 13,84 mm panjang 1500 mm, ice slurry diberikan sirkulasi air panas pada test section pada mass flux antara 800-3500 kg/m2s  dan fraksi es antara 0-25%. Hasil penelitian ini adalah koefisien perpindahan kalor meningkat dengan pertambahan debit dan fraksi es, namun efek fraksi es tidak terlalu siginifikan pada debit tinggi. Pada area debit rendah terjadi kenaikan yang tajam pada koefisien perpindahan kalor pada fraksi es lebih dari 10%.

Niezgoda-Zelasko (2006), Niezgoda-Zelasko-Zalewski (2006) dan Grozdek (2009) melakukan penelitian tentang perpindahan kalor dan tekanan jatuh pada ice slurry dari 10% ethanol dengan menggunakan pipa horisontal yang dipanaskan. Hasilnya adalah pada fraksi es dan kecepatan yang tinggi mempunyai koefisien perpindahan kalor dan tekanan jatuh yang tinggi juga. Penggunaan heat flux mempengaruhi sedikit koefisien perpindahan kalor. Pada fraksi es antara 10-15% mempunyai heat transfer coefficient yang naik secara perlahan pada aliran laminar dan tidak ada kenaikan pada aliran turbulen dibanding dengan aliran satu fasa. Melawati nilai tersebut mempunyai kenaikan heat transfer coefficient yang tinggi.

Jean Pierre Nedecarrats-Francoise Strub-Chistophe Peuverl (2009) menggunakan pipa corrugated dengan diberi heat flux pada dinding pada kecepatan ice slurry 0,3-1,9 m/s dan ice fraction 0-30%. Didapatkan hasil bahwa nilai tekanan jatuh dan koefisien perpindahan kalor naik seiring dengan bertambahnya fraksi es dan kecepatan. Pada penelitian ini ditemukan nilai kritis antara tekanan jatuh dan perpindahan kalor yang menjadi titik turun sebelum naik kembali. Perbandingan pipa corrugated dengan pipa halus untuk ice slurry adalah nilai koefisien perpindahan kalor dan tekanan jatuh lebih tinggi sekitar 2,5 kali dibanding hasil dari pipa halus.

Penjelasan singkat diatas dapat disimpulkan bahwa karekteristik ice slurry dipengaruhi oleh larutan pembentuk ice slurry, debit, fraksi es, dan ukuran kristal. Namun hasil diatas masih belum dapat diterima secara luas untuk menghitung perpindahan kalor dan tekanan jatuh dalam heat exchanger (Ayel et al,.2003). Sehingga masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang sifat-sifat aliran ice slurry.

Read Full Post »

Sejak tahun 1940 sampai awal 1990, jenis refrigeran yang paling umum digunakan dalam sistem refrigerasi uap adalah  CFCs (chlorofluorcarbons) yang mengandung chlorine, salah satu contohnya adalah Refrigeran 12 (CCl2F2). Dikarenakan kekuatiran mengenai efek dari chlorine didalam refrigeran terhadap lapisan ozon pelindung bumi, kesepakatan-kesepakatan internasional telah diimplementasikan untuk menghentikan penggunaan CFCs. Jenis-jenis refrigeran yang mengandung sejumlah hidrogen kemudian dikembangkan untuk mengganti CFCs. Salah satu contohnya adalah HFCs. Kemudian mulai dikembangkan refrigeran dari bahan alami contohnya adalah amonia (NH3) dan propana (CH3). Selain efek diatas, setiap refijeran mempunyai efek global warming, tingkat keracunan apabila terjadi kebocoran, mudah meledak seperti ammonia dan sifat korosif. Efek ini pasti sebanding dengan jumlah refrigeran yang dipakai pada sistem apabila terjadi kebocoran.  Untuk itu dalam meminimalkan efek-efek tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan secondary refrigerant sebagai sistem pendingin yang bersirkulasi.

Ice slurry termasuk secondary refrigerant yang memanfaatkan temperatur rendah dari primary refrigerant untuk mengubah fase menjadi ice partikel pada  sebagian fluida. Fluida yang digunakan dapat berupa air murni atau campuran antara air dengan larutan penurun titik beku, yaitu Sodium Chloride, Ethanol, Ethylene Glycol, Propylene Glycol (Kauffeld et al., 2005). Pemanfaatan ice slurry menjadi populer karena efek pendingin yang lebih besar dan kemudahan dalam sistem transportasi ice slurry untuk pendinginan dibanding secondary refrigerant lainnya.

1

Skema Secondary Refrigerant (Meewise, 2004)

Karaktreistik dan keuntungan dari ice slurry telah diteliti sejak beberapa tahun sebelum 1975. Perpindahan atau sistem pompa dari ice slurry telah dijadikan objek penelitian dan bahkan beberapa telah dilakukan persentasi di ASHRAE Meeting di Toronto, Canada pada bulan Juni 1998 (Kirby P. Nelson et al,.1998).

Penyimpanan energi ice slurry lebih tinggi dibanding secondary refrigerant lainnya karena terdapat panas laten dari kristal es pada hasil ice slurry. Selain itu, ice slurry juga mempunyai pendinginan yang cepat dan efektif karena mempunyai luas kontak permukaan pada partikel ice slurry. Dalam pengaplikasiannya sebagai sistem pendingin, manfaat dari ice slurry salah satunya adalah dapat mengurangi ukuran tank, pompa, pipa dan chiller karena tingginya densitas energi penyimpanan dan kemampuan berpindah dari ice slurry, bahkan dapat mereduksi lebih dari 70% daya pompa dibanding dengan fluida biasa (Kasza et al., 1988).

Dewasa ini banyak peneliti melakukan riset dibidang ini karena manfaatnya yang besar sebagai alat penukar panas. Aplikasinya adalah dalam dunia industri (Wang and Kusumoto,2001; Rivet, 2009), kesehatan dan aplikasi langsung pendinginan makanan serta ikan (Wang and Goldstein, 2003; Pineiro et al., 2004).

Read Full Post »

What is Refrigerant?

Refrigerant merupakan fluida utama yang bekerja sebagai pendingin dalam sistem refrigerasi. Hal ini karena refrigerant dapat berubah fasa (menguap dan mencair) pada temperatur dan tekanan yang rendah. Karakter yang baik dan harus dipenuhi oleh refrigerant yaitu (Cloutier,.2002) :

  • Sifat Termodinamika
  1. Tekanan  (gauge) evaporasi positif, artinya tekanan rendah penguapan harus diatas tekanan atmosfer untuk menghindari masuknya udara luar ke sistem.
  2. Tekanan kondensasi rendah untuk meminimalisasi peralatan yang digunakan pada sisi tekanan tinggi.
  3. Temperatur kritis tinggi, untuk mencegah tekanan operasi berlebihan.
  4. Kalor laten penguapan tinggi agar efek pendinginannya tinggi
  5. Koefisien perpindahan kalor tinggi untuk mereduksi luas permukaan yang dibutuhkan pada alat penukar kalor.
  6. Viskositas rendah, untuk meminimalisasi tekanan jatuh pada pemipaan, penukar kalor dan komponen lainya.
  • Sifat kimia
  1. Reaktivitas rendah untuk mencegah reaksi dengan material pada sistem dan tidak korosif terhadap air.
  2. Stabil, mampu mempertahankan ikatan kimia pada kondisi operasi
  • Keamanan dan pengaruh terhadap lingkungan
  1. Tidak beracun (non toxicity), aman bagi mahluk hidup jika terlepas ke udara bebas
  2. Tidak mudah terbakar (nonflammability),tidak mudah terbakar dan memicu kebakaran pada konsentrasi tertentu di udara.
  3. Potensi kerusakan ozon (Ozone depletion potensial,ODP) rendah
  4. Potensi pemanasan global ( Global Warming Potensial,GWP) rendah
  • Sifat Lainya
  1. Mudah dalam deteksi kebocoran sehingga mudah untuk diperbaiki.
  2. Murah, agar harganya terjangkau oleh masyarakat
  3. Kemampuan berikatan dengan pelumas dan mudah untuk terpisah kembali.
  4. Kemudahan dalam mendapatkan di pasaran.

Refrigerant dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok besar, yaitu halocarbons, hydrocarbons, inorganic compounds, azeotropic mixtures, dan nonazeotropic mixtures (Dincer,.2010).

Read Full Post »

  • Filter Dryer

Filter berfungsi untuk menyaring kotoran didalam sistem, agar tidak merusak alat ekspansi dan kompresor. Kotoran tersebut antara lain : potongan logam, timah, endapan, lumpur, karat, dan kotoran lainnya. Saringan harus menyaring semua kotoran di dalam sistem, tetapi tidak boleh menyebabkan penurunan tekanan atau membuat sistem menjadi buntu. Saringan biasanya terdiri dari kawat saringan tembaga, monel atau bronze dengan diameter kawat 0,004-0,005 inci dengan ukuran 100-150 mesh.

Sedangkan drier atau pengering berfungsi sebagai penyerap kotoran seperti air,uap air, asam dan kotoran-kotoran lainnya. Drier terdapat beberapa macam, antara lain SiO2, Al2O3, CaCl2, dan Molecular Sieve.

Kejadian yang tidak diinginkan apabila tidak menggunakan filter drier adalah (Handoko.1981)

  1. Uap air di dalam sistem dapat membeku dan membuat sistem menjadi buntu.
  2. Uap air akan bereaksi dengan bahan pendingin dan minyak pelumas kompresor membentuk asam dan menyebabkan korosi.
  3. Air dan asam dapat merusak minyak kompresor, membentuk endapan yang dapat membuat buntu sistem serta merusak kompresor.
  • Liquid Receiver

Liquid receiver berbentuk tabung yang berfungsi untuk menampung bahan pendingin cair dan gas setelah dari kondensor. Penampungan bahan pendingin tergantung dari jumlah bahan pendingin yang dimasukkan dalam sistem. Bahan pendingin cari yang hanya dapat mengalir ke luar saluran ke katub ekspansi. Apabila terdapat uap air dikuatirkan akan membuat buntu saluran karena dapat menjadi es ketika keluar dari katub ekspansi, sehingga liquid receiver harus dipertimbangkan untuk meningkatkan waktu penggunaan sistem.

  •  Accumulator

Fungsi dari accumulator adalah menampung bahan pendingin cair sebelum memasuki kompresor. Bahan pendingin cair yang akan memasuki kompresor karena perencanaan evaporator yang tidak sesuai, beban kurang besar, dan jumlah bahan pendingin terlalu banyak yang dimasukkan kedalam sistem tertahan dalam accumulator. Apabila bahan pendingin cair masuk ke kompresor maka bahan pendingin cair akan menyerap minyak pelumas kompresor dan mencuci bantalan yang membuat kekurangan minyak pelumas pada kompresor sehingga cepat aus dan panas. Selain itu, dapat menyebabkan katub kompresor mematahkan torak, tangkai torak atau poros engkol. Fungsi lain dari accumulator adalah sebagai peredam suara (muffler) pada sisi tekanan rendah dari sistem. Pemilihan accumulator menjadi penting karena apabila accumulator terlalu kecil ukurannya dapat menyebabkan penurunan tekanannya, sedangkan accumulator yang terlalu besar dapat menyebabkan aliran bahan pendingin menjadi lamban dan minyak pelumas tidak dapat ikut kembali ke kompresor.

  •  Sight Glass

Sight glass berfungsi sebagai penunjuk fase dan uap air dari bahan pendingin yang diletakkan setelah filter dryer. Jika dalam sighglass terdapat gelembung, maka dalam sistem terdapat uap air yang tidak tersaring di filter dryer, jika sighglass terlihat jernih maka bahan pendingin berfase cair (Dossat,.2001). Uap air ini berbahaya karena dapat membeku dan membuat sistem menjadi beku, selain itu uap air dapat bereaksi dengan bahan pendingin dan minyak pelumas kompresor yang dapat membentuk asan endapan dan menyebabkan korosi.

  •  Oil Separator

Oil separator berfungsi sebagai pemisah bahan pendingin dengan uap minyak pelumas dari kompresor dan membatasi minyak pelumas yang terbawa bersama bahan pendingin . Jika bahan pendingin tanpa melalui oil separator maka uap dari oli minyak pelumas dapat menyebabkan endapan cair keseluruh sistem. Selain itu terdapat beberapa bahan pendingin yang dapat membawa minyak pelumas dalam temperatur tinggi namun tidak dapat membawa minyak pelumas saat temperatur rendah, contohnya adalah R22. Hal ini dapat membuat koefisien perpindahan panas menjadi kurang efektif pada evaporator.

Read Full Post »

Katub ekspansi berkerja untuk mengatur jumlah aliran bahan pendingin dan membuat perbedaan tekanan pada sistem dengan proses iso-enthalpi. Penurunan ini berhubungan dengan jumlah refrigerant yang mengalir dari sisi tekanan tinggi ke tekanan rendah, maksudnya ketika penurunan besar maka jumlah bahan pendingin yang mengalir ke evaporator sedikit dengan temperatur yang sangat rendah, sedangkan jika penurunan kecil maka jumlah bahan pendingin yang mengalir ke evaporator banyak dengan temperatur yang tidak terlalu rendah.

Hasil yang ingin didapatkan adalah efisiensi dari siklus refrigerasi yang maksimum,  karena ketika menurunkan katub ekspansi akan mempengaruhi nilai dari pendinginan (kalor evaporator) dan besaran kompresor. Tidak heran apabila ingin menambah kapasitas pendinginan maka harus menambah beban kompresor.

Pada awalnya isoenthapi didapat melalui pipa kapiler. Namun dalam perkembangannya terdapat beberapa alat untuk membuat proses isoenthalpi, antara lain :

  • Needle Valve

Needle valve adalah alat untuk katub ekspansi yang harus diputar dengan tangan, dan tidak akan berubah secara otomatis terhadap perbedaan beban pendinginan dan tekanan awal. Kerugian penggunaan needle valve adalah katub tidak terpengaruh dan tidak dapat menyesuakan diri dengan perubahan beban pada sistem, maka katub ini tidak sesuai dengan sistem pendingin yang mempunyai beban yang berbeda-beda, karena jika beban kurang maka panas lanjut (superheat) tidak dapat tercapai sehingga refrigeran masih dalam keadaan saturasi.

  • Automatic Expasion Valve

Automatic expasion valve atau disingkat AEV dapat bekerja dengan mempertahankan tekanan yang tetap pada beban evaporator yang berubah-ubah. AEV bekerja berdasarkan tekanan yang seimbang pada membran yang saling menyeimbangankan antara tekanan evaporator dan tekanan pegas. Jika beban evaporator bertambah, panas yang diserap juga bertambah, maka bahan pendingin yang menguap juga bertambah banyak. Di dalam evaporator terbentuk lebih banyak gas, sehingga menyebabkan kenaikan tekanan dalam evaporator dan pada saluran hisap. Jika tekanan ini dipertahankan sebagai tekanan tetap, kapasistas dari sistem pendingin juga akan tetap. Kerugian dari katub ini adalah tidak tergantung dari besar kapasitas yang diperlukan, karena AEV akan membuat kapasitas konstan, dengan kata lain sistem menjadi tidak terpengaruh dengan kompresor yang bekerja terus-menerus dan beban yang berubah-ubah.

  • Thermostatic Expansion Valve

Thermostatic expansion valve atau disingkat TXV bekerja secara otomatis mengukur jumlah aliran bahan pendingin cari yang masuk ke evaporator, sambil mempertahankan gas panas lanjut (superheat). Dengan kata lain TXV sangat cocok penggunaannya dengan sistem yang mempunyai beban berubah-ubah. TXV mempunyai thermal bulb yang berisi bahan pendingin cair dan diletakkan pada pipa section setelah evaporator. TXV bekerja dengan menyeimbangkan tekanan pada membran yang dipengaruhi oleh tekanan dari thermal bulb untuk mencapai keadaan panas lanjut (superheat).

Read Full Post »

Kondensor adalah alat penukar kalor yang bekerja dengan proses isobar artinya pada tekanan konstan. Cara kerja kondensor sama dengan evaporator, namun pada kondensor kalor dari bahan pendingin dibuang sehingga merubah fase bahan pendingin dari bentuk gas menjadi cair.Kondensor harus dapat membuang kalor dari evaporator dan kompresor sehingga untuk meningkatkan pertukaran kalor, kondensor dilengkapi dengan kisi-kisi dan fan. Kondensir dengan perancangan yang baik dapat membuat cairan dingin lanjut (sub-cooling) dari bahan pendingin cari sebelum meninggalkan kondensor, artinya kalor dari bahan pendingin dibuang lebih besar sehingga posisi bahan pendingin telah melewati kubah saturasi. Hal ini sangat menguntungkan dalam aplikasinya, karena apabila bahan pendingin melewati kubah saturasi, maka efek pendinginan menjadi lebih besar.

Evaporator adalah alat penukar kalor yang berfungsi untuk menyerap kalor dari benda dan fluida. Berbeda dengan kondensor, evaporator ditempatkan didalam ruangan pendinginan. Kompresor yang sedang bekerja menghisap bahan pendingin gas dari evaporator, sehingga tekanan di dalam evaporator menjadi rendah. Penyerapan kalor pada evaporator membuat bahan pendingin menguap dari fase cair menjadi fase gas. Perencanaan evaporator harus mencakup penguapan yang efektif dari bahan pendingin dengan penurunan tekanan yang minimum dan pengambilan panas dari zat yang didinginkan secara efisien. Harapannya adalah bahan pendingin berfase gas ketika memasuki kompresor.

Read Full Post »

Compressor Refrigerant

Kompresor berfungsi penting dalam sistem pendingin. Ibarat dalam tubuh manusia, kompresor berperan seperti jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh. Idealnya, sistem kerja kompresor berkerja untuk memampatkan bahan pendingin berfase gas dengan proses isentropik yang artinya tidak ada kalor keluar masuk pada proses kompresi, kemudian bahan pendingin mengalir ke kondensor untuk dibuang kalornya. Fluida yang dapat dimampatkan adalah fase gas, sehingga apabila bahan pendingin yang masuk kompresor masih berfase liquid maka akan mempecepat waktu penggunaan dengan kata lain umur kompresor menjadi pendek. Penyebabnya adalah katub kompresor patah sehingga ketika kompresor bekerja bahan pendingin tidak terkompresi. Mengingat pentingnya fungsi dari kompresor maka bahan pendingin harus dipastikan berfase gas ketika keluar dari evaporator atau beban  sesuai dengan sistem dan jumlah bahan pendingin.

Jadi kerja kompresor adalah sebagai berikut :

  1. Menurunkan tekanan di evaporator, sehingga bahan pendingin cair di evaporator dapat menguap pada suhu yang lebih rendah dan menyerap lebih banyak panas dari sekitarnya.
  2. Membuat sirkulasi bahan pendingin di sistem pendingin.
  3. Menghisap gas bahan pendingin dari evaporator lalu menaikkan tekanan dan suhu gas bahan pendingin tersebut, kemudian mengalirkannya ke kondensor.

Jenis – Jenis kompresor untuk mesin pendingin

  • Kompresor Torak

Kompresor yang melakukan kompresi dengan bantuan torak. Kompresor jenis ini banyak digunakan dalam sistem pendingin karena ketersediaan kompresi torak yang mempunyai daya bervariasi. Putaran bolak-balik untuk menekan torak bersumber dari listrik. Kompresor ini bekerja lebih baik didalam rentang tekanan yang besar dan lebih banyak untuk menangani refrigeran dengan volume spesifik yang rendah (Micheal et al,.1998).

  • Kompresor Rotasi

Berbeda dengan kompresi torak, kompresor rotasi bekerja dengan bantuan blade baik bersistem roller type yaitu stationary blade maupun rotary blade atau vane type. Keuntungan kompresor rotasi adalah daya yang lebih irit, ukuran kompak, getaran dan suara sangat kecil. Sedangkan kekurangannya adalah sukar diperbaiki apabila rusak dan harga lebih mahal. Kompresor ini cocok untuk tekanan evaporator yang rendah dan refrigeran denga volume spesifik yang besar pada tekanan rendah (Micheal et al,.1998).

Berdasarkan letak motor kompresor dibedakan menjadi 2, antara lain :

  • Kompresor Open Unit

Kompresor open unit adalah kompresor yang terpisah dengan motor penggeraknya. Keuntungannya adalah mudah dalam pemeliharaan, mudah dalam pergantian pully untuk mengubah kecepatan, mudah dalam pemeriksaan minyak pelumas dan dapat digerakkan dengan motor bensin ataupun diesel. Sedangkan kekurangannya adalah ukuran yang besar dan berat, serta minyak pelumas dan bahan pendingin yang sering bocor.

  • Kompresor Hermatik

Kompresor hermatik mempunyai motor listrik didalam rumah kompresor (dome) yang menjadi satu dengan poros kompresor sehingga putaran kompresor sama dengan putaran motor. Kompresor ini dapat terdiri dari tipe torak maupun rotasi. Kelebihan kompresor hermatik  adalah jarang terjadi kebocoran karena tidak menggunakan sil pada poros, bentuk kecil dan kompak, serta suara dan getaran lebih tenang. Sedangkan kekurangannya adalah tidak dapat diperbaiki apabila mengalami kerusakan dan minyak pelumas sukar diperiksa. Selain itu, bahan pendingin gas yang memasuki kompresor dari evaporator dapat berfungsi sebagai pendingin motor di dalam kompresor hermatik.

  • Kompresor Semi Hermatik

Kompresor semi hermatik pada dasarnya mirip dengan kompresor hermatik, yaitu motor berada didalam rumah kompresor (dome), namun kelebihannya adalah rumah kompresor dapat dibuka.

Bermacam-macam jenis kompresor mempunyai keunggulan masing-masing, dimana pemakaiannya ditentukan oleh besarnya kapasitas penggunaannya, instalasinya dan jenis bahan pendingin yang digunakan.

Read Full Post »

Pengenalan Sistem Refrigerasi

  • Sistem Refrigerasi Kompresi Uap

            Sistem refrigerasi uap adalah sistem yang paling banyak digunakan untuk pengkondisian udara. Pengkondisian udara dengan memanfaatkan kubah saturasi dari bahan pendingin awalnya memanfaatkan turbin untuk mendapatkan temperatur rendah. Pemanfaatan turbin dapat dibilang memiliki efisiensi yang rendah, karena tidak sebanding dengan pemeliharaan dan pembiayaan serta kerja yang dihasilkan. Untuk mengatasi hal tersebut dipakai katub trotel atau katub ekspansi untuk mendapatkan temperatur rendah setelah bahan pendingin keluar dari kondensor. Proses refrigerasi uap untuk siklus ideal reversible dimulai dari kompresor dengan proses isentropik, artinya tidak ada kalor yang keluar dan masuk. Kemudian  setelah bahan  pendingin yang berfase gas memiliki tekanan dan temperatur tinggi akibat proses kompresi, bahan pendingin memasuki kondensor dengan proses isobar untuk membuang kalor sehingga fase bahan pendingin menjadi cair dengan temperatur menurun. Keluar dari kondensor bahan pendingin memasuki katub ekspansi dengan proses isoenthalpi sehingga temperatur dan tekanan menjadi rendah. Komponen terakhir adalah evaporator yang berfungsi sebagai penerima kalor dengan proses isobar sehingga bahan pendingin menjadi gas dan temperatur naik. Evaporator adalah letak dimana ruangan ingin dibuat dingin atau dikondisikan udaranya.

  •  Sistem Kompresi Uap Gandeng (Cascade)

Sistem cascade sangat efektif jika ingin menginginkan temperatur yang sangat rendah. Pada aplikasinya dapat terdapat 2 sistem kompresi uap dimana evaporator pada kompresi uap pertama yang memiliki terperatur relatif lebih tinggi digunakan untuk menyerap kalor pada kondensor di kompresi uap kedua, sehingga evaporator pada kompresi uap kedua lebih rendah. Sistem cascade memungkinkan penggunaan refrigeran yang berbeda tergantung pada tekanan kerja dan jenis kompresor yang digunakan. Dengan siklus cascade kerja kompresor akan lebih kecil dan jumlah panas yang diserap akan meningkat, sehingga efek COP dari sistem pendingin akan meningkat (Cengel,1998).

  • Sistem Absorber

Tidak menggunakan kompresor melainkan pompa dan heater, pompa yang digunakan dapat menggunakan magnet pump untuk chemical. Sistem ini menggunakan campuran refrigerant yang berbeda titik didih karena terdapat dua fungsi sebagai refrigerant utama dan pembawa (sirkulasi)

  • Heat pipe

Sebuah pipa yang terdiri proses kondenser dan evaporator dan didalamnya terdapat refrigerant. sistem terdapat kapilaritas sebagai proses isentropik

  • Efek Peltier

Kebalikan dari efek seeback yang berfungsi sebagai thermocouple, sistem ini mengubah tegangan sebagai pendefferential temperatur, semakin besar perbedaan maka heat source nya makin besar juga.

  • Thermoacoustic

Read Full Post »

Older Posts »

Kumpulan Cerita Sipil & Struktur

Blog ini didedikasikan bagi taruna Indonesia khususnya bidang teknik sipil & struktur

IKHWANNUL KHOLIS

Melihat Lebih Dekat untuk Menjadi Lebih Bijaksana

Kanzunqalam's Blog

AKAL tanpa WAHYU, akan berbuah, IMAN tanpa ILMU

Sutrisno W. Ibrahim

Just a personal weblog..

titiksenyap

a sub from titiksenyap.blogspot.com

a madeandi's life

something good doesn't have to look difficult

Wisatahati antv Ustadz Yusuf Mansur

Ustadz Yusuf Mansur Wisatahati antv

MENULIS SEUMUR HIDUP

Nur Ali Muchtar

I'm Ali Sungkar

Doaku Semoga aku tak terlambat memberi yang terbaik dari hidupku untuk mengabdi kepada-Mu dan Tanah Air Indonesia

DREAM HIGH AND FLY!

U CAN IF U TRY! IMPOSSIBLE IS 4 THOSE WHO GIVE UP! IMPOSSIBLE IS 4 THOSE WHO NEVER TRY!

Raldi Artono Koestoer

...Jadikanlah sabar dan sholat sebagai pelindungmu...

Catatan Kecilku

kumpulan cerita di catatan kecilku

Piping and Static Equipment

Catatan kecil dunia piping dan static equipment

Walking the Earth

And Allah has made the earth as carpet, that you may go about therein in spacious road (The Holy Al Qur`an 71: 19-20)

Menjadi Sederhana Itu Indah...

Karena ia selalu menyimpan cahaya..

Catatan Kecil

Catatan tentang apapun yang dilihat, didengar, dirasakan

Bukik Ranah Ilmu

Just another WordPress.com weblog

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Budaya Jawa

Budaya Leluhur di Wariskan Bukan Untuk DITINGGALKAN, Namun Untuk DILESTARIKAN

INDARWATI AHNA ALIFAH

Pelangi Rasa tentang Mimpi, Cinta, dan Persaudaraan

Maktabah Online Abu Namira

( Tegakkan Tauhid , Sebarkan Sunnah)

Dunia Kelautan Duniaku

"Bersama Kita Berbagi" Ilmu Pengetahuan

ocean engineering student blog..

it's my way to love ocean engineering..

Helmidadang's Blog

Surga hanya bisa didapat dengan rahmat Allah SWT, semoga kita tetap istiqomah dijalan-Nya, Amin

Surga hanya bisa didapat dengan rahmat Allah SWT, semoga kita tetap istiqomah dijalan-Nya, Amin

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Surga hanya bisa didapat dengan rahmat Allah SWT, semoga kita tetap istiqomah dijalan-Nya, Amin

Surga hanya bisa didapat dengan rahmat Allah SWT, semoga kita tetap istiqomah dijalan-Nya, Amin

Surga hanya bisa didapat dengan rahmat Allah SWT, semoga kita tetap istiqomah dijalan-Nya, Amin

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.